
Egg In The Basket
September 21, 2010

Note of A Daydreamer..
June 16, 2010
Freaking Out
February 16, 2010
I don't live with people who practicing English everyday..
I can't spare more time to seriously learn English in my unbearable hectic life..
Those are some of the reasons why I'm freaking out about the English Test I'm gonna have this Saturday..
To know that some of my friends feel the same in the reality do not ease the silliness of anxiety I feel..
Really hope that the result is gonna be as I expected to, since I've got really high expectation on it.
Gosh..I cross my heart and pray..ouh, my finger too..
And of course, TRYING to spend a lot more time in English would be a perfct way to achieve my goal.. AMEN sista..hehehe..
I'll let y'all know my update about the test a.s.a.p..( that if you're guys interesting on knowing it at all..)
Favourite Things
February 12, 2010

Bright copper kettles and warm woollen mittens,
Brown paper packages tied up with strings,
These are a few of my favourite things.
Girls in white dresses with blue satin sashes,
Snowflakes that stay on my nose and eyelashes,
Silver white winters that melt into springs,
These are a few of my favourite things.
When the dog bites, when the bee stings,
When I'm feeling sad,
I simply remember my favourite things,
And then I don't feel so bad.
Cream colored ponies and crisp apple strudels,
Door bells and sleigh bells and schnitzel with noodles.
Wild geese that fly with the moon on their wings.
These are a few of my favourite things.
Girls in white dresses with blue satin sashes,
Snowflakes that stay on my nose and eyelashes,
Silver white winters that melt into springs,
These are a few of my favourite things.
When the dog bites, when the bee stings,
When I'm feeling sad,
I simply remember my favourite things,
And then I don't feel so bad.
Dream
October 9, 2009
Ah, great it is to believe the dream as we stand in youth by the starry
stream; but a greater thing is to fight life through and say at the end, the
dream is true..
Edwin Markham (1852-1940)
Stumbled to this beautiful quotes couple of days ago (well, I'm not sure if 'stumbled' is the right word) I was reading a book that said something about keep holding on your dreams and at the end of a phrase, this line can wrapped it all .. I don't know who this Edwin Markham guy was, but one thing for sure he can articulated it perfectly..
Multitasking Freak..
September 10, 2009

Hey.. show me one person who don't multitasking these days??! (believe me, there's none)..
Write the Writinglessness
June 23, 2009
Whoa!!!!!!!!No writings in three months?! Talking about productivity, huh?? The lack of writings are not intend to happen. It’ll because of my dearest hectic life was flowing like a river in the canal full of rocks. There’s no option of anything. No option of putting myself in a cozy chair and starting to write down my strange thoughts. And absolutely no option of daydreaming.
But, anyway, despite of all the writinglessness, I’ve got a grand plan somewhere here in the part of my random mind iniside of my tiny brain. So, as a ransom thinker, the plan will be so random too. And I’ve decided to post about it before the muse is gone with the wind.
These past months had gave me a wonderfully blessed days, days to share and cherish as well like other days in my life. Great things have taken place in part of my years of living lately. Let me briefly elaborate it here:
- This May, I’ve done a trip to several cities i.e Jakarta, Semarang and Jogjakarta (alone --of course) just in two weeks. And I visited beautiful hindu and buddha’s temples there too. Some great places. Took some pictures but I guess it never enough. Sort of doing some research for pre wedding pictures. LOL.Basicly, it’s so amazing, all the people, places and the trip itself. I might going to tell about all the details of the trip in my next posts (hopefully..).
- I stayed with my best friends who move to Jakarta last year. They’re waiting on baby now. And I’m grateful for having them as friends and family, they have always open up their hearts and doors for me. Thank you bro and sista..Love y’all.
- I did something that is purely spontaneous on my way back to my hometown. I talk to stranger. That’s another story to share.
- Another thing happen spontaneously (yeah, right?!), I gain extra pounds. It’s okay when the pants still fit in, but when I hardly can’t breathe while wear the pants, I can say that’s a major problem. Top priority.
- Uhm..oh yeach..my friends and part of family in Semarang just gave birth their first baby girl. Welcome Nara. Lots of love for you, dear.
Well..I’ve said it..guess that’s all. Uhm..it totally relieving to write and post something here. Can’t wait to post another writings. By the way the picture was taken in Lawang Sewu, Semarang, one of the place I visited. thought it look great.
A Christmas Carol (III)
February 26, 2009

Pegawai Scrooge di ruang kecilnya tidak sengaja bertepuk tangan. Tindakan sehat itu membuat dia menyodok api lilin sehingga memadamkan cahaya lemah tersebut.
“Sekali lagi aku dengar kau bicara,” kata Scrooge,”Dan kau pasti menyesal. Anda pembicara hebat, Tuan,” tambah Scrooge membalas Keponakannya,”Kenapa tidak masuk Parlemen saja?”
“Jangan marah, Paman. Datanglah makan malam dengan kami besok.”
Scrooge mengiayakan bahwa dia akan menengok Keponakannya – ya, dia memang menengoknya. Scrooge akhirnya mengatakan bahwa dia tidak akan lama nantinya.
“Tapi kenapa?” seru Keponakan Scrooge,”Kenapa?”
“Kenapa kamu menikah?”kata Scrooge.
“Karena jatuh cinta.”
“Karena jatuh cinta!” geram Scrooge, seakan menikah adalah hal konyol lain di dunia ini selain Selamat Natal. “Selamat siang!”
“Tidak, Paman, tapi Paman tidak pernah menengok aku sebelum itu terjadi. Mengapa itu jadi alasan untuk tidak datang?”
“Selamat siang,” kata Scrooge.
“Maafkan aku Paman. Kami tidak pernah bertengkar yang mana aku sangat bahagia. Tapi aku menghormati Natal. Jadi, Selamat Natal, Paman.”
“Selamat siang!” kata Scrooge.
“Dan Selamat Tahun Baru!”
“Selamat siang!” kata Scrooge.
Keponakan Scrooge meninggalkan ruangan tanpa kata-kata kemarahan. Dia berhenti di pintu keluar untuk melimpahkan salam kepada Pegawai Scrooge yang masih kedinginan, meskipun lebih hangat dari Scrooge; yang membalasnya dengan hangat.
“Ada satu orang lagi,” gerutu Scrooge yang mendengarnya’ “Pegawaiku, dengan lima belas shilling seminggu, dan seorang istri dan keluarga, bicara tentang Natal yang bahagia. Aku akan pensiun saja.”
Keponakan Scrooge keluar dan ada dua pria masuk. Kedua orang itu bertubuh gemuk dan tampak menyenangkan, membuka topi, dan berdiri di dalam kantor Scrooge. Keduanya memegang buku dan kertas, memberi hormat pada Scrooge.
“Ini Scrooge and Marley, bukan?” kata salah seorang,”Bisa saya sebut Mr Scrooge, atau Mr Marley?”
“Mr Marley sudah meninggal sejak tujuh tahun yang lalu.” balas Scrooge,”Tujuh tahun yang lalu, tepat malam ini.”
“Tidak kami ragukan lagi kalau kebaikannya diwakilkan kepada rekan yang masih hidup,” kata pria itu lagi sambil menunjukkan surat tugasnya.
Tentu saja, karena keduanya mempunyai perhatian yang sama. Pada kata yang tidak menyenangkan: “kebaikan”, Scrooge mengerutkan dahi, menggelengkan kepalanya dan mengembalikan surat tugas kepada pria tadi.
“Berkaitan dengan masa-masa ini, Mr Scrooge,” kata pria itu sambil mengambil pulpen,” Ini lebih dari yang biasanya, kita seharusnya memberi sedikit untuk orang miskin dan papa, yang sangat menderita saat ini. Ribuan orang dalam kebutuhan biasa dan ratusan ribu dalam kesenangan biasa, sir.”
“Tidak ada yang dalam penjara?” tanya Scrooge.
“Banyak yang dipenjara,”kata pria itu sambil meletakkan lagi pulpennya.
“Dan Union workhouse?” tuntut Scrooge,”Apa masih bekerja?”
“Masih,” jawab pria tadi,”Seandainya saja tidak.”
“Kantor Dinas Sosial masih bekerja keras?” tanya Scrooge.
“Sangat sibuk, sir.”
“Oh, dari perkataanmu sebelumnya aku takut jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada mereka,” kata Scrooge,”Senang mendengarnya.”
“Mereka terkesan hampir tidak dapat melengkapi sukacita Kristen,” jawab pria itu lagi,”Sebagian dari kami berusaha keras menggalang dana untuk membelikan makanan dan minuman bagi orang miskin, yang berarti kehangatan. Kami memilih saat ini, karena inilah saatnya berbelas kasih untuk sesama, dengan sukacita berkelimpahan. Berapa yang akan saya tulis untuk anda?”
“Tidak ada,” jawab Scrooge.
“Anda ingin tanpa nama?”
“Aku ingin sendiri,” kata Scrooge.”Sejak kau tanya apa yang aku inginkan, pak, inilah jawabannya. Aku tidak menjadikan diriku bahagia saat Natal dan aku tidak berusaha untuk membuat orang yang bermalas-malasan berbahagia. Aku mendukung dinas sosial dengan biaya cukup dan mereka cukup ke situ saja.”
“Banyak yang tidak dapat ke tempat itu; banyak yang lebih memilih mati.”
“Jika itu yang mereka pilih,”kata Scrooge,”Biarkanlah, itu akan menurunkan jumlah penduduk yang kelebihan. Lagi pula – maafkan aku—aku tidak tahu itu.”
“Mungkin anda tahu,” selidik pria itu.
“Bukan urusanku,” kata Scrooge,”Cukuplah bila aku hanya tahu urusanku sendiri dan tidak ikut campur urusan orang lain. Urusanku menyibukkan aku terus-menerus. Selamat siang, gentlemen.”
Terlihat jelas usaha mereka sia-sia untuk mencapai tujuan, maka kedua orang itu meninggalkan kantor Scrooge. Scrooge mulai memberikan pendapatnya pada Pegawainya yang menurutnya bermanfaat sambil berkelakar, yang sebenarnya tidak biasanya.
Sementara itu kabut dan kegelapan semakin tebal, jadi orang-orang berjalan dengan nyala api, menawarkan bantuan sebagai penuntun bagi kuda dan bawaan. Menara tua gereja dengan lonceng kuno yang selalu mengintip Scrooge melalui jendela model lama di dinding menjadi tak terlihat, seakan memukul jam dan menit di awan-awan dengan suara getaran yang gemetar di atas sana seumpama gigi yang gemeletuk karena kedinginan. Hawa dingin menjadi semakin hebat. Di sudut jalan utama, beberapa pekerja sedang memperbaiki pipa gas dan telah menyalakan api anglo, berkelilinglah para lelaki dan anak-anak yang berpakaian compang-camping bagai sebuah pesta, menghangatkan tangan dan mengedipkan mata di depan nyala api dengan gembira. Kayu penyumbat air ditinggalkan, dan luapan airnya menjadi es batu. Terangnya toko-toko di mana ranting holly dan berry gemericik karena panas lampu di jendela, membuat wajah pucat yang lewat memerah. Toko-toko yang berdagang menjadi lelucon indah: yaitu sukar dipercaya jika tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh prinsip menjemukan seperti tawar-menawar. Tuan Walikota dalam rumahnya yang besar dan megah, memberi perintah pada lima puluh tukang masak dan kepala pelayan untuk merayakan Natal seperti yang seharusnya bagi rumah tangga Walikota; dan bahkan penjahit kecil yang hanya punya uang lima shilling senin lalu untuk minum-minum di jalan, menyimpan puding Natal di loteng sementara istri dan anaknya keluar membeli daging
Translated by OYEN
To be continued..
A Christmas Carol (II)
February 25, 2009

Suasana panas dan dingin hanya sedikit pengaruhnya pada Scrooge. Tak ada kehangatan yang dapat menghangatkan Scrooge, bahkan musim dingin pun tidak mendinginkan dia. Tak ada tiupan angin yang lebih menggigit dari “gigitan” Scrooge. Jika Scrooge punya tujuan, bahkan salju pun tak bisa menghalanginya. Tak ada hujan lebat yang membuatnya bisa sedikit berbelas kasihan. Cuaca buruk sekalipun tidak dapat menemukan Scrooge. Hujan paling lebat, dan salju, dan hujan es, dan hujan salju bercampur es, yang bisa menyombongkan diri atas Scrooge. Yaitu cuaca tersebut biasanya turun dengan manisnya. Sementara Scrooge tidak.
Tak ada orang yang pernah menghentikannya di jalan, dengan wajah gembira,”Scrooge yang baik, apa kabar? Kapan kita ngobrol lagi?” Tak ada pengemis yang meminta-minta padanya. Tak ada anak-anak yang bertanya padanya tentang pukul berapa saat ini, tak ada pria atau wanita yang sekali saja dalan hidup Scrooge menanyakan ke mana jalan menuju tempat ini atau itu. Bahkan anjing si Orang Buta nampaknya tahu siapa Scrooge; ia pasti akan menarik tuannya menuju pintu dan terus ke halaman ketika anjing itu melihat Scrooge datang dan mengibas-ngibaskan ekornya sambil berkata,” Orang jahat, Tuan!”.
Tapi apa sih yang dipedulikan Scrooge? Seperti itulah orangnya. Di keramaian Scrooge mengambil tempat di pinggir, peringatan bagi simpati manusia untuk menjaga jarak, di mana orang yang mengenal Scrooge mengatakan Scrooge kurang sehat pikirannya.
Pada suatu waktu—dari semua hal yang baik sepanjang tahun—pada Malam Natal—Scrooge Tua duduk di kantornya sibuk menghitung. Saat itu cuaca dingin, suram, dengan kabut yang menggigit, dan Scrooge dapat mendengar orang-orang di jalan menggigil sambil merapatkan tangan ke dada seraya menghentakkan kaki ke trotoar untuk menghangatkan badan. Jam kota baru saja menunjukkan pukul tiga sore tapi sudah cukup gelap, seharian cuaca mendung dan lilin-lilin menyala yang kelihatan dari jendela kantor tetangga memerah di tengah udara kusam. Kabut tebal masuk melalui lubang kunci yang retak, rumah-rumah di seberang jalan terlihat seperti bayangan hantu. Melihat kabut suram tebal turun, mengaburkan segalanya, aku berpikir bahwa hidup di alam adalah sukar dan saat itu kabut hampir berada di semua tempat.
Pintu ruang kerja Scrooge terbuka, agar dapat mengawasi pegawainya bekerja menyalin surat, ruang untuk pegawainya sempit dan kecil di sebelah ruang kerjanya. Perapian di ruangan Scrooge sangat kecil, tapi perapian di ruangan pegawainya sekecil kerikil. Pegawainya tidak dapat menambah batu bara karena kotaknya disimpan di ruangan Scrooge, pernah kedapatan dia memegang sekop untuk menambah bara sehingga Scrooge memutuskan untuk memisahkan kotak itu dari pegawainya. Itulah mengapa Pegawai Scrooge mngenakan selimut dan menyalakan sebatang lilin meskipun usahanya untuk menghangatkan diri itu gagal total.
“Selamat Natal, Paman! Tuhan memberkati!” Seru satu suara riang. Itu suara Keponakan Scrooge, suaranya lebih dulu terdengar daripada orangnya.
“Bah!” kata Scrooge,”Omong kosong!”
Keponakan Scrooge berjalan dengan cepat dalam kebekuan kabut, bersemangat dan hangat, wajahnya tampan berseri, matanya berbinar-binar dengan napas beruap.
“Natal itu omong kosong? Paman!” kata Keponakan Scrooge,”Bukan itu maksud Paman, aku yakin.”
“Memang itu maksudku,”kata Scrooge,”Selamat Natal? Hak apa yang membuat kau gembira? Alasan apa yang buat kau bahagia? Kau miskin.”
“Ayo, kalau begitu,”sahut Keponakannya dengan riang,”Hak apa yang membuat Paman muram? Alasan apa yang buat Paman murung? Paman kaya.”
Scrooge yang tidak punya jawaban yang lebih baik lagi untuk situasi itu berkata,”Bah!” dan meneruskannya dengan,”Omong kosong!”
“Jangan marah, Paman”kata Keponakannya.
“Lalu aku harus apa?” sahut pamannya,”Hidup di dunia dengan Hari Natal. Konyol. Di hari Natal tetap harus bayar tagihan, Natal berarti bertambah tua tapi tidak bertambah kaya, dan saatnya membenahi pembukuan!” kata Scrooge marah,” Semua orang bodoh yang ber”Selamat Natal” di bibirnya sebaiknya mati saja!”
“Paman!” seru Keponakan
“Ponakan!” seru sang Paman dengan keras,”Simpan sendiri Natalmu, dan akan kusimpan Natalku sendiri.”
“Paman tidak pernah punya Natal,” kata Keponakan Scrooge.
“Kalau begitu, biarkan aku tidak mempedulikan Natal,” kata Scrooge.
“Ada banyak hal di mana aku memperoleh kebaikan bukan keuntungan,” sahut Keponakan,” aku berani bilang, termasuk Natal. Tapi aku selalu memikirkan Natal, ketika hari itu menjelang. Terlepas dari kesuciannya, Natal berarti kebaikan, mengampuni, saat bermurah hati dan saat bersenang-senang, hanya saat itu yang aku tahu dari kalender sepanjang tahun, ketika manusia membuka hati dan memperhatikan orang yang lebih susah hidupnya. Dan karena itu Paman, meskipun Natal tidak memberikan sepotong emas atau perak di kantongku, aku percaya Natal telah membuatku jadi baik dan akan tetap seperti itu, dan aku bilang, Tuhan memberkati Natal!”
Translated by OYEN
To be continued..
A CHRISTMAS CAROL
February 24, 2009
A CHRISTMAS CAROLAUTHOR : CHARLES DICKENS
TRANSLATOR : OYEN
BAB 1
Dimulai dengan Marley sudah meninggal. Tak ada keraguan apapun mengenai hal itu. Daftar penguburannya telah ditandatangani oleh pendeta, seorang pelayan toko, pengurus pemakaman, dan kepala para pelayat. Scrooge menandatangani daftar itu. Dan nama Scrooge benar-benar ampuh di atas kata “Uang Kembali”, atas apapun yang diinginkannya. Si Tua Marley benar-benar sudah mati.
Astaga! Aku tidak bermaksud sekasar itu. Bagiku yang disebut mati apabila sudah dalam peti mati tentunya. Tetapi karena kebijakan para leluhur dan karena tangan kotorku seharusnya tidak bermaksud begitu..atau Negara ini akan menghukumku, kau bisa mengijinkanku mengulanginya dengan sungguh-sungguh, bahwa Marley memang sudah meninggal.
Apa Srooge tahu Marley sudah meninggal? Tentu saja dia tahu. Bagaimana mungkin tidak. Scrooge dan dia adalah rekanan untuk waktu yang..aku tidak tahu sudah berapa lama. Scrooge adalah pelaksana satu-satunya, pengatur satu-satunya, utusan satu-satunya, teman satu-satunya dan pelayat satu-satunya. Dan bahkan Scrooge tidak benar-benar terluka dalam peristiwa menyedihkan ini, dia adalah seorang pengusaha ulung bahkan di hari pemakaman, yang melangsungkan upacara tersebut bagai perdagangan yang tak dapat ditunda lagi.
Bicara tentang pemakaman Marley membawa aku kembali ke permulaan. Tak ada keraguan kalau Marley sudah meninggal. Hal ini harus jelas dipahami karena kalau tidak, sesuatu yang indah tidak akan ada lagi dari kisah yang akan kuceritakan ini. Jika kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Ayah Hamlet sudah meninggal sebelum sandiwara dimulai, maka tak ada yang luar biasa saat dia ternyata berjalan-jalan di waktu malam pada saat angin timur bertiup di atas istananya sendiri, dan kemudian pada saat yang lain menjadi pria setengah tua yang segera menghilang menjelang pagi, yang benar-benar mengherankan pikiran lemah anaknya.
Scrooge tidak pernah menghapus nama si Tua Marley pada papan nama sebelah atas pintu kantornya. Pada papan itu tetap tertera : Scrooge and Marley, bertahun-tahun kemudian. Perusahaan itu tetap dikenal sebagai Scrooge and Marley. Kadang-kadang orang yang baru bergabung dengan bisnis mereka menyebut Scrooge Scrooge dan kadang-kadang menyebut Marley, tapi Scrooge tetap mengiyakan keduanya. Baginya itu sama saja.
To be continued...
For Oyen : Thanks buat kebesaran hatimu meminjamkan hasil penerjemahanmu ini untuk kuterbitkan di blogku. God bless..^^
Nyolong Laptop demi Fesbuk
Woi..demam fesbuk dimana-mana neh..Orang-orang tergila-gila ma fesbuk..coba liat perilaku seorang pemuda AS yang nekad nyolong laptop orang buat dipake ngecek account fesbuknya. Uedannn tenan!!!!!!!!!!!http://www.myfoxtampabay.com/dpp/news/stolen_laptop_facebook_022309
Trapped in the elevator
February 23, 2009
Gak tau what's wrong with me and the elevator...Aku terperangkap di lift for the fourth times..
Liftnya mati mendadak gara-gara si listrik putus nyambung lageee..and I was alone there..It's dark..thank God..I got no claustrophobic, well at least till now..
Too shock to write..............
New look
February 20, 2009
Well..gimana neh?
ini penampilan baruku..template baru yang menarik hati dan mataku..semoga yang laen juga begitu..
more to come..
Not Write..
February 19, 2009

Got some pretty good sites 'bout abortion from a friend in facebook (pro life). The sites are : abort73.com; bound4life.com; 40daysoflife.com. Sites tersebut diatas adalah sites yang banyak membahas tentang aborsi tapi titik beratnya adalah aborsi yang terjadi di Amerika Serikat serta gerakan-gerakan anti aborsi di negara tersebut. Sampai sekarang aku belum menemukan situs yang cukup mengakomodasi yang aku cari. Oh ya ada satu site tentang anti aborsi Indonesia i.e aborsi.org.
I HATE ABORTION (because I LOVE PEOPLE)
