"Our lives begin to end the day we become silent about things that matter" Dr. Martin Luther King Jr

places of her heart

CRY ACTION : New project -- Face the Facts

February 27, 2009

Salah satu pergerakan pro life CRY ACTION telah mengumumkan project baru "Face the Facts". Project ini akan dilaksanakan sepanjang bulan Maret ini. Anda bisa berpartisipasi untuk menyuarakan keadilan dengan bergabung di Facebook dan check out the event here serta join Cry Action's new Facebook group here. Invite lebih banyak orang, suarakan mengenai aborsi dan laksanakan komitmen untuk menjadikan salah satu fakta mengenai aborsi ini sebagai status anda di facebook setiap harinya selama bulan Maret. God bless us all..
Thanks for being a voice for the voiceless.
"Our lives begin to end the day we become silent about things that matter. "
Martin Luther King Jr.

post signature

A Christmas Carol (III)

February 26, 2009


Pegawai Scrooge di ruang kecilnya tidak sengaja bertepuk tangan. Tindakan sehat itu membuat dia menyodok api lilin sehingga memadamkan cahaya lemah tersebut.

“Sekali lagi aku dengar kau bicara,” kata Scrooge,”Dan kau pasti menyesal. Anda pembicara hebat, Tuan,” tambah Scrooge membalas Keponakannya,”Kenapa tidak masuk Parlemen saja?”

“Jangan marah, Paman. Datanglah makan malam dengan kami besok.”

Scrooge mengiayakan bahwa dia akan menengok Keponakannya – ya, dia memang menengoknya. Scrooge akhirnya mengatakan bahwa dia tidak akan lama nantinya.

“Tapi kenapa?” seru Keponakan Scrooge,”Kenapa?”

“Kenapa kamu menikah?”kata Scrooge.

“Karena jatuh cinta.”

“Karena jatuh cinta!” geram Scrooge, seakan menikah adalah hal konyol lain di dunia ini selain Selamat Natal. “Selamat siang!”

“Tidak, Paman, tapi Paman tidak pernah menengok aku sebelum itu terjadi. Mengapa itu jadi alasan untuk tidak datang?”

“Selamat siang,” kata Scrooge.

“Maafkan aku Paman. Kami tidak pernah bertengkar yang mana aku sangat bahagia. Tapi aku menghormati Natal. Jadi, Selamat Natal, Paman.”

“Selamat siang!” kata Scrooge.

“Dan Selamat Tahun Baru!”

“Selamat siang!” kata Scrooge.

Keponakan Scrooge meninggalkan ruangan tanpa kata-kata kemarahan. Dia berhenti di pintu keluar untuk melimpahkan salam kepada Pegawai Scrooge yang masih kedinginan, meskipun lebih hangat dari Scrooge; yang membalasnya dengan hangat.

“Ada satu orang lagi,” gerutu Scrooge yang mendengarnya’ “Pegawaiku, dengan lima belas shilling seminggu, dan seorang istri dan keluarga, bicara tentang Natal yang bahagia. Aku akan pensiun saja.”

Keponakan Scrooge keluar dan ada dua pria masuk. Kedua orang itu bertubuh gemuk dan tampak menyenangkan, membuka topi, dan berdiri di dalam kantor Scrooge. Keduanya memegang buku dan kertas, memberi hormat pada Scrooge.

“Ini Scrooge and Marley, bukan?” kata salah seorang,”Bisa saya sebut Mr Scrooge, atau Mr Marley?”

“Mr Marley sudah meninggal sejak tujuh tahun yang lalu.” balas Scrooge,”Tujuh tahun yang lalu, tepat malam ini.”

“Tidak kami ragukan lagi kalau kebaikannya diwakilkan kepada rekan yang masih hidup,” kata pria itu lagi sambil menunjukkan surat tugasnya.

Tentu saja, karena keduanya mempunyai perhatian yang sama. Pada kata yang tidak menyenangkan: “kebaikan”, Scrooge mengerutkan dahi, menggelengkan kepalanya dan mengembalikan surat tugas kepada pria tadi.
“Berkaitan dengan masa-masa ini, Mr Scrooge,” kata pria itu sambil mengambil pulpen,” Ini lebih dari yang biasanya, kita seharusnya memberi sedikit untuk orang miskin dan papa, yang sangat menderita saat ini. Ribuan orang dalam kebutuhan biasa dan ratusan ribu dalam kesenangan biasa, sir.”

“Tidak ada yang dalam penjara?” tanya Scrooge.

“Banyak yang dipenjara,”kata pria itu sambil meletakkan lagi pulpennya.

“Dan Union workhouse?” tuntut Scrooge,”Apa masih bekerja?”

“Masih,” jawab pria tadi,”Seandainya saja tidak.”

“Kantor Dinas Sosial masih bekerja keras?” tanya Scrooge.

“Sangat sibuk, sir.”

“Oh, dari perkataanmu sebelumnya aku takut jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada mereka,” kata Scrooge,”Senang mendengarnya.”

“Mereka terkesan hampir tidak dapat melengkapi sukacita Kristen,” jawab pria itu lagi,”Sebagian dari kami berusaha keras menggalang dana untuk membelikan makanan dan minuman bagi orang miskin, yang berarti kehangatan. Kami memilih saat ini, karena inilah saatnya berbelas kasih untuk sesama, dengan sukacita berkelimpahan. Berapa yang akan saya tulis untuk anda?”

“Tidak ada,” jawab Scrooge.

“Anda ingin tanpa nama?”

“Aku ingin sendiri,” kata Scrooge.”Sejak kau tanya apa yang aku inginkan, pak, inilah jawabannya. Aku tidak menjadikan diriku bahagia saat Natal dan aku tidak berusaha untuk membuat orang yang bermalas-malasan berbahagia. Aku mendukung dinas sosial dengan biaya cukup dan mereka cukup ke situ saja.”

“Banyak yang tidak dapat ke tempat itu; banyak yang lebih memilih mati.”

“Jika itu yang mereka pilih,”kata Scrooge,”Biarkanlah, itu akan menurunkan jumlah penduduk yang kelebihan. Lagi pula – maafkan aku—aku tidak tahu itu.”

“Mungkin anda tahu,” selidik pria itu.

“Bukan urusanku,” kata Scrooge,”Cukuplah bila aku hanya tahu urusanku sendiri dan tidak ikut campur urusan orang lain. Urusanku menyibukkan aku terus-menerus. Selamat siang, gentlemen.”

Terlihat jelas usaha mereka sia-sia untuk mencapai tujuan, maka kedua orang itu meninggalkan kantor Scrooge. Scrooge mulai memberikan pendapatnya pada Pegawainya yang menurutnya bermanfaat sambil berkelakar, yang sebenarnya tidak biasanya.
Sementara itu kabut dan kegelapan semakin tebal, jadi orang-orang berjalan dengan nyala api, menawarkan bantuan sebagai penuntun bagi kuda dan bawaan. Menara tua gereja dengan lonceng kuno yang selalu mengintip Scrooge melalui jendela model lama di dinding menjadi tak terlihat, seakan memukul jam dan menit di awan-awan dengan suara getaran yang gemetar di atas sana seumpama gigi yang gemeletuk karena kedinginan. Hawa dingin menjadi semakin hebat. Di sudut jalan utama, beberapa pekerja sedang memperbaiki pipa gas dan telah menyalakan api anglo, berkelilinglah para lelaki dan anak-anak yang berpakaian compang-camping bagai sebuah pesta, menghangatkan tangan dan mengedipkan mata di depan nyala api dengan gembira. Kayu penyumbat air ditinggalkan, dan luapan airnya menjadi es batu. Terangnya toko-toko di mana ranting holly dan berry gemericik karena panas lampu di jendela, membuat wajah pucat yang lewat memerah. Toko-toko yang berdagang menjadi lelucon indah: yaitu sukar dipercaya jika tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh prinsip menjemukan seperti tawar-menawar. Tuan Walikota dalam rumahnya yang besar dan megah, memberi perintah pada lima puluh tukang masak dan kepala pelayan untuk merayakan Natal seperti yang seharusnya bagi rumah tangga Walikota; dan bahkan penjahit kecil yang hanya punya uang lima shilling senin lalu untuk minum-minum di jalan, menyimpan puding Natal di loteng sementara istri dan anaknya keluar membeli daging



Translated by OYEN


To be continued..


post signature


A Christmas Carol (II)

February 25, 2009


Suasana panas dan dingin hanya sedikit pengaruhnya pada Scrooge. Tak ada kehangatan yang dapat menghangatkan Scrooge, bahkan musim dingin pun tidak mendinginkan dia. Tak ada tiupan angin yang lebih menggigit dari “gigitan” Scrooge. Jika Scrooge punya tujuan, bahkan salju pun tak bisa menghalanginya. Tak ada hujan lebat yang membuatnya bisa sedikit berbelas kasihan. Cuaca buruk sekalipun tidak dapat menemukan Scrooge. Hujan paling lebat, dan salju, dan hujan es, dan hujan salju bercampur es, yang bisa menyombongkan diri atas Scrooge. Yaitu cuaca tersebut biasanya turun dengan manisnya. Sementara Scrooge tidak.

Tak ada orang yang pernah menghentikannya di jalan, dengan wajah gembira,”Scrooge yang baik, apa kabar? Kapan kita ngobrol lagi?” Tak ada pengemis yang meminta-minta padanya. Tak ada anak-anak yang bertanya padanya tentang pukul berapa saat ini, tak ada pria atau wanita yang sekali saja dalan hidup Scrooge menanyakan ke mana jalan menuju tempat ini atau itu. Bahkan anjing si Orang Buta nampaknya tahu siapa Scrooge; ia pasti akan menarik tuannya menuju pintu dan terus ke halaman ketika anjing itu melihat Scrooge datang dan mengibas-ngibaskan ekornya sambil berkata,” Orang jahat, Tuan!”.

Tapi apa sih yang dipedulikan Scrooge? Seperti itulah orangnya. Di keramaian Scrooge mengambil tempat di pinggir, peringatan bagi simpati manusia untuk menjaga jarak, di mana orang yang mengenal Scrooge mengatakan Scrooge kurang sehat pikirannya.

Pada suatu waktu—dari semua hal yang baik sepanjang tahun—pada Malam Natal—Scrooge Tua duduk di kantornya sibuk menghitung. Saat itu cuaca dingin, suram, dengan kabut yang menggigit, dan Scrooge dapat mendengar orang-orang di jalan menggigil sambil merapatkan tangan ke dada seraya menghentakkan kaki ke trotoar untuk menghangatkan badan. Jam kota baru saja menunjukkan pukul tiga sore tapi sudah cukup gelap, seharian cuaca mendung dan lilin-lilin menyala yang kelihatan dari jendela kantor tetangga memerah di tengah udara kusam. Kabut tebal masuk melalui lubang kunci yang retak, rumah-rumah di seberang jalan terlihat seperti bayangan hantu. Melihat kabut suram tebal turun, mengaburkan segalanya, aku berpikir bahwa hidup di alam adalah sukar dan saat itu kabut hampir berada di semua tempat.

Pintu ruang kerja Scrooge terbuka, agar dapat mengawasi pegawainya bekerja menyalin surat, ruang untuk pegawainya sempit dan kecil di sebelah ruang kerjanya. Perapian di ruangan Scrooge sangat kecil, tapi perapian di ruangan pegawainya sekecil kerikil. Pegawainya tidak dapat menambah batu bara karena kotaknya disimpan di ruangan Scrooge, pernah kedapatan dia memegang sekop untuk menambah bara sehingga Scrooge memutuskan untuk memisahkan kotak itu dari pegawainya. Itulah mengapa Pegawai Scrooge mngenakan selimut dan menyalakan sebatang lilin meskipun usahanya untuk menghangatkan diri itu gagal total.

“Selamat Natal, Paman! Tuhan memberkati!” Seru satu suara riang. Itu suara Keponakan Scrooge, suaranya lebih dulu terdengar daripada orangnya.

“Bah!” kata Scrooge,”Omong kosong!”
Keponakan Scrooge berjalan dengan cepat dalam kebekuan kabut, bersemangat dan hangat, wajahnya tampan berseri, matanya berbinar-binar dengan napas beruap.

“Natal itu omong kosong? Paman!” kata Keponakan Scrooge,”Bukan itu maksud Paman, aku yakin.”

“Memang itu maksudku,”kata Scrooge,”Selamat Natal? Hak apa yang membuat kau gembira? Alasan apa yang buat kau bahagia? Kau miskin.”

“Ayo, kalau begitu,”sahut Keponakannya dengan riang,”Hak apa yang membuat Paman muram? Alasan apa yang buat Paman murung? Paman kaya.”

Scrooge yang tidak punya jawaban yang lebih baik lagi untuk situasi itu berkata,”Bah!” dan meneruskannya dengan,”Omong kosong!”

“Jangan marah, Paman”kata Keponakannya.

“Lalu aku harus apa?” sahut pamannya,”Hidup di dunia dengan Hari Natal. Konyol. Di hari Natal tetap harus bayar tagihan, Natal berarti bertambah tua tapi tidak bertambah kaya, dan saatnya membenahi pembukuan!” kata Scrooge marah,” Semua orang bodoh yang ber”Selamat Natal” di bibirnya sebaiknya mati saja!”

“Paman!” seru Keponakan

“Ponakan!” seru sang Paman dengan keras,”Simpan sendiri Natalmu, dan akan kusimpan Natalku sendiri.”

“Paman tidak pernah punya Natal,” kata Keponakan Scrooge.

“Kalau begitu, biarkan aku tidak mempedulikan Natal,” kata Scrooge.

“Ada banyak hal di mana aku memperoleh kebaikan bukan keuntungan,” sahut Keponakan,” aku berani bilang, termasuk Natal. Tapi aku selalu memikirkan Natal, ketika hari itu menjelang. Terlepas dari kesuciannya, Natal berarti kebaikan, mengampuni, saat bermurah hati dan saat bersenang-senang, hanya saat itu yang aku tahu dari kalender sepanjang tahun, ketika manusia membuka hati dan memperhatikan orang yang lebih susah hidupnya. Dan karena itu Paman, meskipun Natal tidak memberikan sepotong emas atau perak di kantongku, aku percaya Natal telah membuatku jadi baik dan akan tetap seperti itu, dan aku bilang, Tuhan memberkati Natal!”


Translated by OYEN


To be continued..


post signature

Congressman Frank R. Wolf Writes to Secretary of State Hillary Clinton Expressing His “Dismay” at Her Comments Indicating Human Rights Not a Priority

Read an article on China Aid. It said that on February 23, 2009, Congressman Frank R. Wolf (R-VA, 10th District) sent letter to Secretary of State Hillary Clinton regarding her remarks indicating that human rights would not be a priority for her visit to China. Read here

post signature

A CHRISTMAS CAROL

February 24, 2009

Sebenarnya dah dari taon lalu, aku kepengen menerbitkan posting ini. Soale pas waktu dan temanya match. Tapi berhubung upaya "negosiasi" dengan sang penterjemah cukup alot, akhirnya artikel ini baru bisa diturunkan sekarang. Yah, meskipun begitu, kupikir tak mengapa jika kuposting sekarang dan ceritanya pun kurasa takkan basi (Kuharap... ^^). So enjoy it..


A CHRISTMAS CAROL
AUTHOR : CHARLES DICKENS
TRANSLATOR :
OYEN

BAB 1

Dimulai dengan Marley sudah meninggal. Tak ada keraguan apapun mengenai hal itu. Daftar penguburannya telah ditandatangani oleh pendeta, seorang pelayan toko, pengurus pemakaman, dan kepala para pelayat. Scrooge menandatangani daftar itu. Dan nama Scrooge benar-benar ampuh di atas kata “Uang Kembali”, atas apapun yang diinginkannya. Si Tua Marley benar-benar sudah mati.

Astaga! Aku tidak bermaksud sekasar itu. Bagiku yang disebut mati apabila sudah dalam peti mati tentunya. Tetapi karena kebijakan para leluhur dan karena tangan kotorku seharusnya tidak bermaksud begitu..atau Negara ini akan menghukumku, kau bisa mengijinkanku mengulanginya dengan sungguh-sungguh, bahwa Marley memang sudah meninggal.

Apa Srooge tahu Marley sudah meninggal? Tentu saja dia tahu. Bagaimana mungkin tidak. Scrooge dan dia adalah rekanan untuk waktu yang..aku tidak tahu sudah berapa lama. Scrooge adalah pelaksana satu-satunya, pengatur satu-satunya, utusan satu-satunya, teman satu-satunya dan pelayat satu-satunya. Dan bahkan Scrooge tidak benar-benar terluka dalam peristiwa menyedihkan ini, dia adalah seorang pengusaha ulung bahkan di hari pemakaman, yang melangsungkan upacara tersebut bagai perdagangan yang tak dapat ditunda lagi.

Bicara tentang pemakaman Marley membawa aku kembali ke permulaan. Tak ada keraguan kalau Marley sudah meninggal. Hal ini harus jelas dipahami karena kalau tidak, sesuatu yang indah tidak akan ada lagi dari kisah yang akan kuceritakan ini. Jika kita tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Ayah Hamlet sudah meninggal sebelum sandiwara dimulai, maka tak ada yang luar biasa saat dia ternyata berjalan-jalan di waktu malam pada saat angin timur bertiup di atas istananya sendiri, dan kemudian pada saat yang lain menjadi pria setengah tua yang segera menghilang menjelang pagi, yang benar-benar mengherankan pikiran lemah anaknya.


Scrooge tidak pernah menghapus nama si Tua Marley pada papan nama sebelah atas pintu kantornya. Pada papan itu tetap tertera : Scrooge and Marley, bertahun-tahun kemudian. Perusahaan itu tetap dikenal sebagai Scrooge and Marley. Kadang-kadang orang yang baru bergabung dengan bisnis mereka menyebut Scrooge Scrooge dan kadang-kadang menyebut Marley, tapi Scrooge tetap mengiyakan keduanya. Baginya itu sama saja.


Oh! Tapi Scrooge benar-benar sangat kikir! Memeras, memaksa, tamak, bertengkar, dan iri hati! Keras dan tajam bagai batu api, bahkan baja pun tak dapat menghasilkan api bila terbentur dengannya; selalu berahasia dan egois bagai kerang laut. Kekejamannya membuat wajahnya membeku, merusak bentuk ujung hidungnya, mengerutkan pipinya, membuat kaku cara berjalannya, memerahkan matanya, membirukan bibir tipisnya, dan apa yang dibicarakannya adalah kelicikan semata. Pastilah ada embun beku dalam kepalanya, di alisnya dan di dagu kurusnya. Suhu dinginnya tersebut tetap saja menjadi bawaan dirinya, bahkan kantornya pun turut menjadi es, dan Scrooge tidak mencairkan suhu dingin tersebut barang satu derajat pun saat Natal.


To be continued...

For Oyen : Thanks buat kebesaran hatimu meminjamkan hasil penerjemahanmu ini untuk kuterbitkan di blogku. God bless..^^

post signature

Nyolong Laptop demi Fesbuk

Woi..demam fesbuk dimana-mana neh..Orang-orang tergila-gila ma fesbuk..coba liat perilaku seorang pemuda AS yang nekad nyolong laptop orang buat dipake ngecek account fesbuknya. Uedannn tenan!!!!!!!!!!!




http://www.myfoxtampabay.com/dpp/news/stolen_laptop_facebook_022309



post signature

Trapped in the elevator

February 23, 2009

Huaaahhhhhhhhhhhhhhhhh..
Gak tau what's wrong with me and the elevator...Aku terperangkap di lift for the fourth times..
Liftnya mati mendadak gara-gara si listrik putus nyambung lageee..and I was alone there..It's dark..thank God..I got no claustrophobic, well at least till now..
Too shock to write..............



New look

February 20, 2009

Well..gimana neh?

ini penampilan baruku..template baru yang menarik hati dan mataku..semoga yang laen juga begitu..

more to come..

Not Write..

February 19, 2009


Sudah hampir dua minggu aku tak menghasilkan tulisan apapun baik di blog ini maupun di jurnalku. No writings at all (It's not like I 'm doin it daily or intense). Well, bukan karena sibuk atau lagi ke luar kota, tapi beberapa hari ini aku menghabiskan waktu didepan komputer sambil browsing dan menemukan banyak hal menyangkut aborsi. It can be said as an eye opening moment for me. Yesterday I saw pictures of abortion techniques and that's very heartbreaking ones. If I'wasn't at my office, I probably had cried like a baby yesterday after looked at those pics (well, I cried in my bathroom last night while thinking about those babies). But anyway, I'm not going to talk about those pics right now, I'll talk about it later. Aku cuma mo bilang kalo aborsi adalah hal yang sangat urgent dan membutuhkan perhatian kita saat ini. Di Indonesia sendiri, aborsi sendiri ilegal by laws (ketentuan hukum pidananya dapat dilihat dalam postingku yang terdahulu) tapi pada prakteknya banyak terjadi secara sembunyi-sembunyi yang akibatnya membahayakan nyawa sang ibu dan anak.

Got some pretty good sites 'bout abortion from a friend in facebook (pro life). The sites are : abort73.com; bound4life.com; 40daysoflife.com. Sites tersebut diatas adalah sites yang banyak membahas tentang aborsi tapi titik beratnya adalah aborsi yang terjadi di Amerika Serikat serta gerakan-gerakan anti aborsi di negara tersebut. Sampai sekarang aku belum menemukan situs yang cukup mengakomodasi yang aku cari. Oh ya ada satu site tentang anti aborsi Indonesia i.e aborsi.org.

I HATE ABORTION (because I LOVE PEOPLE)

Ketentuan berkaitan dengan Aborsi (part II)

February 9, 2009

Pasal 15 UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan

(1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat ditakukan tindakan medis tertentu.

(2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan :
a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
b. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya;
d. pada sarana kesehatan tertentu.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

ODE TO THE ABSURD

February 5, 2009


I’m wishing upon a star..
I’m wishing upon my love..
Nothing happen..
For my wish was meaningless..


I want to shut myself off..
I want to shut my eyes..
Feel nothin indeed..
Waking up is not the choice..


I ask for a pair of hands..
I ask for a stronger wing..
But the wind tears em away..
And I lost inside of my tired soul..


I want to flee..Away to a distance land..
To the island of unloved..I set my eyes to..
Pain no more..tears no more..
Happy no more..smile no more..


I wish..I want..I hope..And I ask..
From the deepest pit ever..
From the silence stolen’s hours..
Still..I shut myself off..

(by Vidya)

Things that matter..

February 4, 2009

"Our lives begin to end the day we become silent about things that matter. "
Martin Luther King Jr.
What are the things that matter to us???
That's the big question. Is it the family? the job?money?our love ones?or what???

DADS, WHERE ARE YOU???..


Sejak minggu lalu aku bernostalgia dengan lagu country kesayanganku yang dinyanyikan Jimmy Wayne “I Love You This Much”. Tiap hari lagu ini mengalun dari PC ku di kantor ataupun di rumah. It’s a beautiful song. Love the music and the lyrics. I put the lyrics below, so that y’all can see the reason why I love it so much.

I LOVE YOU THIS MUCH
By Jimmy Wayne

He can't remember,
The times that he thought
Does my daddy love me?
Probably not
but that didn't stop him
From wishing that he did
Didn't keep him from wanting
Or worshipping him
He guesses he saw him
About once a year
He could still feel the way he felt
Standing in tears
Stretching his arms out
As far as they'd go
Whispering dad
I want you to know

CHORUS: I love you this much
And I'm waiting on you
To make up your mind
Do you love me too?
How ever long it takes
I'm never giving up
no matter what
I love you this much

He grew to hate him for what he had done
'Cause what kind of father
Could do that to his son?
He said 'damn you daddy'
The day that he died
The man didn't blink
But the little boy cried

CHORUS

Half way through the service
While the choir sang a hymn
He looked up at the preacher
And he sat and stared at him
He said
'Forgive me father'
When he realized
That he hadn't been unloved
Or alone all his life
His arms were stretched out
As far as they go
Nailed to the cross
For the whole world to know

CHORUS

Lagu “I Love You This Much” bercerita tentang kerinduan seorang anak untuk dicintai oleh ayahnya. Sang anak bertumbuh besar tanpa merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Dia bertumbuh dalam kegetiran. Pada akhirnya kepahitan dan kehausannya akan cinta seorang ayah membuahkan sebuah kebencian sekaligus kepedihan yang mendalam. Pada akhir lagunya si anak menyadari kalau dia mendapatkan cinta yang lebih dari yang diharapkannya dari Sang Bapa.

Sesungguhnya lagu itu memberikan gambaran kasar mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia. Saat ini di banyak tempat terdapat sejumlah anak yang haus akan kehadiran sosok bapa dalam hidup mereka. Meskipun tidak seluruhnya demikian, akan tetapi banyak kejahatan dan pelanggaran bersumber dari keadaan psikologis yang terbentuk dari ketiadaan fungsi bapa dalam sebuah keluarga. Sebuah diskusi ringan yang menyentil dan kiriman bahan referensi dari seorang ayah rohani (calon ayah jasmani juga), menginspirasiku untuk mencoba mengelaborasi isu tersebut disini (Bro, you should have a blog. You got some good stuffs there!!!).

Pada tahun 1999 di western world, jumlah anak yang hidup tanpa ayah biologis presentasinya meningkat dari 17,5 % pada tahun 1960 menjadi sebesar 38%. Terdapat lebih dari 50% anak menghabiskan separuh hidup mereka tanpa ayah. 46% keluarga dengan anak yang dipimpin oleh seorang ibu saja hidup dibawah garis kemiskinan dibandingkan keluarga yang lengkap (ayah ibu) yang hanya 8%.

Pakar sosiologi sekarang telah menghubungkan ketiadaan ayah dengan : drop out, jobless, kecanduan obat, bunuh diri, ataupun target dari pelecehan seksual. Bertumbuh tanpa bapa berhubungan erat dengan mimpi buruk masyarakat seperti anak remaja yang membawa pistol dan gadis remaja dengan bayi.

Sebuah survey Men Against Domestic Violence Survey bahwa anak-anak yang bertumbuh dalam keluarga tanpa fungsi ayah terindikasi sebagai berikut :
· 85% dari jumlah anak-anak yang menunjukkan penyimpangan perilaku dan kebiasaan.
· 71% dari jumlah drop out sekolah menengah.
· 85% dari semua pemuda yang tengah menjalani hukuman di penjara. (Source: Center for Disease Control).
· 80% dari jumlah pemerkosa bermotivasi displaced anger
· 90% dari jumlah tunawisma dan anak-anak yang lari dari rumah
· 63% dari remaja pelaku bunuh diri. (Source: US Dept. of Health & Human Services, Bureau of the Census).
· 71% dari remaja yang hamil di luar nikah. (Source: US Dept. of Health & Human Services)
Statistik tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang bertumbuh dalam keluarga tanpa fungsi ayah memiliki kecenderungan 20 kali lebih banyak untuk berperilaku menyimpang, 9 kali lebih banyak untuk drop out, 20 kali lebih banyak berakhir di penjara, 10 kali lebih banyak untuk melakukan pemerkosaan, dan 32 kali lebih banyak untuk minggat dari rumah.

Statistics of a Fatherless America menyimpulkan bahwa :
Children of fatherless families have greater and earlier sexual activity, dramatically greater risk of drug and alcohol abuse, more mental illness, more suicide, poorer educational performance, and higher rates of teen pregnancy, criminality, and sexual abuse. They are more likely to have suffered child abuse and more often have earlier death, confused identities (boys), more aggressive behavior (boys), more emotional distress, uncooperative behavior, more anxiety and depression (girls), more antisocial behavior, and school suspensions.

Hasil survey tersebut diatas setidaknya menggelitik kesadaran kita tentang seberapa pentingnya peran seorang ayah dalam sebuah keluarga. Ditengah gaung independensi kaum perempuan dan menjamurnya single parenthood dimana terjadi peningkatan jumlah ibu yang berperan ganda sebagai ayah, satu hal yang tak bisa berubah adalah peran ayah yang tetap tak tergantikan. Secara maksimal, peran ayah hanyalah bisa dikerjakan oleh seorang pria. Menjadi seorang ayah merupakan sebuah kehormatan tertinggi yang Tuhan taruh dalam kehidupan seorang pria, karena Tuhan memilih titel/sebutan/panggilan untuk diriNya sebagai Bapa.

Kata bapa sendiri berasal dari bahasa Ibrani Abbah, ini sebenarnya adalah sebutan (title) dan arti dari kata ini adalah sumber atau pemelihara. Dalam bahasa Yunani, bapa adalah Pater yang berarti sumber dan pemelihara atau yang mendukung. Kata bapa dapat juga berarti sebagai fondasi dari semuanya.
Untuk lebih memahami konsep pembapaan, kita harus melihat asal muasal konsep kebapaan ini di awal masa dimana manusia pertama Adam diciptakan. Hal pertama yang Tuhan lakukan saat penciptaan manusia adalah menempatkan Adam dalam Taman Eden (presence of moment or spot). Tuhan mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (Kej. 2:15). Adam diharuskan bekerja dan menghasilkan (produktif). Hal ini memberikan pengertian bahwa sebelum pria “diberikan” wanita, dia harus bekerja dulu. Kemudian Tuhan meminta Adam untuk memelihara atau melindungi semua yang dipercayakan kepadanya. Setelah itu Tuhan menugaskan Adam untuk mengolah (cultivate) yang punya pengertian mengeluarkan yang terbaik dari dalamnya, menyebabkan berkembang. Selanjutnya Tuhan mempercayakan pada manusia FirmanNya.

Cerita berlanjut saat Hawa tergoda, Adam tak berbuat apapun yang sesuai dengan otoritasnya dan tidak menghormati perintah Bapa melainkan mengambil sikap sekehendaknya, yang menyebabkannya kehilangan figur Bapa. Tindakan manusia pertama tersebut seperti yang telah diketahui menyebabkan kejatuhan seluruh umat manusia. Konsep pembapaan memiliki peran saat kejatuhan manusia ke dalam dosa tersebut. Dosa terlahir sebagai salah satu akibat dari pernyataan independen manusia dari Bapa mereka.
Saat seseorang yang kehilangan figure Bapa, maka ia akan kehilangan:
1. Identitas
2. Kasih Sayang
3. Sense of destiny – tujuan hidup

Masalah dosa adalah masalah tanpa ayah. Manusia yang berada dalam dosa menderita akibat ketiadaan ayah. Dan itulah masalah utama manusia.

Karena ayah adalah kunci untuk dosa, maka ayah jugalah kunci solusi dari dosa (Roma 5:12, 15). Dengan kata lain, konsep pembapaan yang merupakan penyebab manusia jatuh dalam dosa, maka konsep pembapaan yang akan menjadi penyelamatan manusia. Kuasa dari pembapaan telah menjadi bukti dalam konsep Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Tuhan sendiri melihat pembapaan sebagai jalan keluar bagi masalah dosa ini (Maleakhi 4:5,6). Kembali ke survey diatas dan dikaitkan dengan pembapaan, dapat disimpulkan bahwa kunci untuk pemulihan keluarga, masyarakat, gereja, kota, bangsa adalah roh pembapaan. Dengan adanya ini, umat yang dipulihkan dan yang layak bagi Tuhan dapat dipersiapkan

Pembapaan adalah pekerjaan yang terutama bagi para pria. Tidak ada yang lebih lengkap bagi seorang pria untuk mencapai kepenuhan dalam hidupnya (the fullest in life) kecuali menjadi seorang ayah. Namun sayangnya, pekerjaan istimewa ini tidak disadari dan cenderung tersalahgunakan oleh ketidakpahaman seorang pria akan arti pentingnya seorang ayah itu.
Menjadi seorang ayah bukan berarti hanya memiliki anak jasmani, akan tetapi juga menjadi ayah rohani (spiritual father) bagi anak-anak yang bukan berasal dari darah dagingnya sendiri.


(dari berbagai sumber)

More to come................

Ketentuan berkaitan dengan Aborsi

February 3, 2009

Beberapa waktu lalu, aku menulis mengenai aborsi dan kaitannya dengan UDHR.. Sebagai kelanjutannya, saat ini aku lampirkan beberapa pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Aborsi.. Di kemudian hari, rencananya aku akan mengulas tentang aborsi lebih dalam lagi disini..

Pasal 299

1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.

Pasal 341

Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 342

Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 343

Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.



Pasal 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.

Pasal 348
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349

Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

Journal's Writing..


Topik hari ini tentang Journal's Writing alias Menulis jurnal.. Aku mengangkat topik ini karena iseng saja. Aku senang menulis jurnal atau kalau kata anak remaja menulis diary atau buku harian. Dalam jurnal, aku bisa merekam setiap kejadian yang menarik yang terjadi setiap hari dalam hidupku berikut letupan-letupan emosi yang mungkin timbul. Juga dalam jurnal dapat kutuangkan pemikiran- pemikiran yang waras ataupun nyeleneh, yang hebatnya hanya dapat dibaca oleh diriku sendiri. Tentu saja dengan pengecualian, apabila pemikiran-pemikiran tersebut kusampaikan di blogku juga..
Kata Rachel Joy Scott, dalam buku hariannya..mmmhhh..aku gak terlalu hapal isinya..tapi pokoke intine adalah bahwa menulis itu bukan untuk harta atau untuk menjadi terkenal tapi semata-mata untuk jiwa kita. Yah, menulis jurnal atau diary atau buku harian memberikan sedikit ketenangan jiwa. Ada kalanya kita butuh suatu media untuk menuangkan apa yang bergejolak di jiwa kita, dan menulis adalah salah satu yang terbaik, kurasa.
Kalau untukku pribadi, jurnal sangat membantuku merekam pemikiran dan emosi yang muncul secara insidentil ataupun untuk mencatat tentang keseharianku yang datar dan senyap. Itu membantuku pada saat sulit untuk mengingatkanku akan setiap hal-hal luar biasa dan menajubkan yang patut kusyukuri. Dan seringkali kukutip beberapa kutipan dari buku-buku yang menurutku menarik dan memiliki makna yang cukup dekat di benakku. Tapi, kurasa setiap penulis buku harian atau jurnal di luar sana memiliki metode tersendiri mengenai penulisan jurnalnya.
Oh ya, tahun ini tak seperti tahun-tahun lalu yang menggunakan buku harian yang dibeli di Gramedia, aku mengunakan agenda BNI yang kudapat dari kantor. Lumayan bagus seh. Sampul warna goldnya agak gimana gitu deh.