Martin Luther King Jr.

"Our lives begin to end the day we become silent about things that matter" Dr. Martin Luther King Jr
February 27, 2009

February 26, 2009

Pegawai Scrooge di ruang kecilnya tidak sengaja bertepuk tangan. Tindakan sehat itu membuat dia menyodok api lilin sehingga memadamkan cahaya lemah tersebut.
“Sekali lagi aku dengar kau bicara,” kata Scrooge,”Dan kau pasti menyesal. Anda pembicara hebat, Tuan,” tambah Scrooge membalas Keponakannya,”Kenapa tidak masuk Parlemen saja?”
“Jangan marah, Paman. Datanglah makan malam dengan kami besok.”
Scrooge mengiayakan bahwa dia akan menengok Keponakannya – ya, dia memang menengoknya. Scrooge akhirnya mengatakan bahwa dia tidak akan lama nantinya.
“Tapi kenapa?” seru Keponakan Scrooge,”Kenapa?”
“Kenapa kamu menikah?”kata Scrooge.
“Karena jatuh cinta.”
“Karena jatuh cinta!” geram Scrooge, seakan menikah adalah hal konyol lain di dunia ini selain Selamat Natal. “Selamat siang!”
“Tidak, Paman, tapi Paman tidak pernah menengok aku sebelum itu terjadi. Mengapa itu jadi alasan untuk tidak datang?”
“Selamat siang,” kata Scrooge.
“Maafkan aku Paman. Kami tidak pernah bertengkar yang mana aku sangat bahagia. Tapi aku menghormati Natal. Jadi, Selamat Natal, Paman.”
“Selamat siang!” kata Scrooge.
“Dan Selamat Tahun Baru!”
“Selamat siang!” kata Scrooge.
Keponakan Scrooge meninggalkan ruangan tanpa kata-kata kemarahan. Dia berhenti di pintu keluar untuk melimpahkan salam kepada Pegawai Scrooge yang masih kedinginan, meskipun lebih hangat dari Scrooge; yang membalasnya dengan hangat.
“Ada satu orang lagi,” gerutu Scrooge yang mendengarnya’ “Pegawaiku, dengan lima belas shilling seminggu, dan seorang istri dan keluarga, bicara tentang Natal yang bahagia. Aku akan pensiun saja.”
Keponakan Scrooge keluar dan ada dua pria masuk. Kedua orang itu bertubuh gemuk dan tampak menyenangkan, membuka topi, dan berdiri di dalam kantor Scrooge. Keduanya memegang buku dan kertas, memberi hormat pada Scrooge.
“Ini Scrooge and Marley, bukan?” kata salah seorang,”Bisa saya sebut Mr Scrooge, atau Mr Marley?”
“Mr Marley sudah meninggal sejak tujuh tahun yang lalu.” balas Scrooge,”Tujuh tahun yang lalu, tepat malam ini.”
“Tidak kami ragukan lagi kalau kebaikannya diwakilkan kepada rekan yang masih hidup,” kata pria itu lagi sambil menunjukkan surat tugasnya.
Tentu saja, karena keduanya mempunyai perhatian yang sama. Pada kata yang tidak menyenangkan: “kebaikan”, Scrooge mengerutkan dahi, menggelengkan kepalanya dan mengembalikan surat tugas kepada pria tadi.
“Berkaitan dengan masa-masa ini, Mr Scrooge,” kata pria itu sambil mengambil pulpen,” Ini lebih dari yang biasanya, kita seharusnya memberi sedikit untuk orang miskin dan papa, yang sangat menderita saat ini. Ribuan orang dalam kebutuhan biasa dan ratusan ribu dalam kesenangan biasa, sir.”
“Tidak ada yang dalam penjara?” tanya Scrooge.
“Banyak yang dipenjara,”kata pria itu sambil meletakkan lagi pulpennya.
“Dan Union workhouse?” tuntut Scrooge,”Apa masih bekerja?”
“Masih,” jawab pria tadi,”Seandainya saja tidak.”
“Kantor Dinas Sosial masih bekerja keras?” tanya Scrooge.
“Sangat sibuk, sir.”
“Oh, dari perkataanmu sebelumnya aku takut jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada mereka,” kata Scrooge,”Senang mendengarnya.”
“Mereka terkesan hampir tidak dapat melengkapi sukacita Kristen,” jawab pria itu lagi,”Sebagian dari kami berusaha keras menggalang dana untuk membelikan makanan dan minuman bagi orang miskin, yang berarti kehangatan. Kami memilih saat ini, karena inilah saatnya berbelas kasih untuk sesama, dengan sukacita berkelimpahan. Berapa yang akan saya tulis untuk anda?”
“Tidak ada,” jawab Scrooge.
“Anda ingin tanpa nama?”
“Aku ingin sendiri,” kata Scrooge.”Sejak kau tanya apa yang aku inginkan, pak, inilah jawabannya. Aku tidak menjadikan diriku bahagia saat Natal dan aku tidak berusaha untuk membuat orang yang bermalas-malasan berbahagia. Aku mendukung dinas sosial dengan biaya cukup dan mereka cukup ke situ saja.”
“Banyak yang tidak dapat ke tempat itu; banyak yang lebih memilih mati.”
“Jika itu yang mereka pilih,”kata Scrooge,”Biarkanlah, itu akan menurunkan jumlah penduduk yang kelebihan. Lagi pula – maafkan aku—aku tidak tahu itu.”
“Mungkin anda tahu,” selidik pria itu.
“Bukan urusanku,” kata Scrooge,”Cukuplah bila aku hanya tahu urusanku sendiri dan tidak ikut campur urusan orang lain. Urusanku menyibukkan aku terus-menerus. Selamat siang, gentlemen.”
Terlihat jelas usaha mereka sia-sia untuk mencapai tujuan, maka kedua orang itu meninggalkan kantor Scrooge. Scrooge mulai memberikan pendapatnya pada Pegawainya yang menurutnya bermanfaat sambil berkelakar, yang sebenarnya tidak biasanya.
Sementara itu kabut dan kegelapan semakin tebal, jadi orang-orang berjalan dengan nyala api, menawarkan bantuan sebagai penuntun bagi kuda dan bawaan. Menara tua gereja dengan lonceng kuno yang selalu mengintip Scrooge melalui jendela model lama di dinding menjadi tak terlihat, seakan memukul jam dan menit di awan-awan dengan suara getaran yang gemetar di atas sana seumpama gigi yang gemeletuk karena kedinginan. Hawa dingin menjadi semakin hebat. Di sudut jalan utama, beberapa pekerja sedang memperbaiki pipa gas dan telah menyalakan api anglo, berkelilinglah para lelaki dan anak-anak yang berpakaian compang-camping bagai sebuah pesta, menghangatkan tangan dan mengedipkan mata di depan nyala api dengan gembira. Kayu penyumbat air ditinggalkan, dan luapan airnya menjadi es batu. Terangnya toko-toko di mana ranting holly dan berry gemericik karena panas lampu di jendela, membuat wajah pucat yang lewat memerah. Toko-toko yang berdagang menjadi lelucon indah: yaitu sukar dipercaya jika tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh prinsip menjemukan seperti tawar-menawar. Tuan Walikota dalam rumahnya yang besar dan megah, memberi perintah pada lima puluh tukang masak dan kepala pelayan untuk merayakan Natal seperti yang seharusnya bagi rumah tangga Walikota; dan bahkan penjahit kecil yang hanya punya uang lima shilling senin lalu untuk minum-minum di jalan, menyimpan puding Natal di loteng sementara istri dan anaknya keluar membeli daging
Translated by OYEN
To be continued..

February 25, 2009

Suasana panas dan dingin hanya sedikit pengaruhnya pada Scrooge. Tak ada kehangatan yang dapat menghangatkan Scrooge, bahkan musim dingin pun tidak mendinginkan dia. Tak ada tiupan angin yang lebih menggigit dari “gigitan” Scrooge. Jika Scrooge punya tujuan, bahkan salju pun tak bisa menghalanginya. Tak ada hujan lebat yang membuatnya bisa sedikit berbelas kasihan. Cuaca buruk sekalipun tidak dapat menemukan Scrooge. Hujan paling lebat, dan salju, dan hujan es, dan hujan salju bercampur es, yang bisa menyombongkan diri atas Scrooge. Yaitu cuaca tersebut biasanya turun dengan manisnya. Sementara Scrooge tidak.
Tak ada orang yang pernah menghentikannya di jalan, dengan wajah gembira,”Scrooge yang baik, apa kabar? Kapan kita ngobrol lagi?” Tak ada pengemis yang meminta-minta padanya. Tak ada anak-anak yang bertanya padanya tentang pukul berapa saat ini, tak ada pria atau wanita yang sekali saja dalan hidup Scrooge menanyakan ke mana jalan menuju tempat ini atau itu. Bahkan anjing si Orang Buta nampaknya tahu siapa Scrooge; ia pasti akan menarik tuannya menuju pintu dan terus ke halaman ketika anjing itu melihat Scrooge datang dan mengibas-ngibaskan ekornya sambil berkata,” Orang jahat, Tuan!”.
Tapi apa sih yang dipedulikan Scrooge? Seperti itulah orangnya. Di keramaian Scrooge mengambil tempat di pinggir, peringatan bagi simpati manusia untuk menjaga jarak, di mana orang yang mengenal Scrooge mengatakan Scrooge kurang sehat pikirannya.
Pada suatu waktu—dari semua hal yang baik sepanjang tahun—pada Malam Natal—Scrooge Tua duduk di kantornya sibuk menghitung. Saat itu cuaca dingin, suram, dengan kabut yang menggigit, dan Scrooge dapat mendengar orang-orang di jalan menggigil sambil merapatkan tangan ke dada seraya menghentakkan kaki ke trotoar untuk menghangatkan badan. Jam kota baru saja menunjukkan pukul tiga sore tapi sudah cukup gelap, seharian cuaca mendung dan lilin-lilin menyala yang kelihatan dari jendela kantor tetangga memerah di tengah udara kusam. Kabut tebal masuk melalui lubang kunci yang retak, rumah-rumah di seberang jalan terlihat seperti bayangan hantu. Melihat kabut suram tebal turun, mengaburkan segalanya, aku berpikir bahwa hidup di alam adalah sukar dan saat itu kabut hampir berada di semua tempat.
Pintu ruang kerja Scrooge terbuka, agar dapat mengawasi pegawainya bekerja menyalin surat, ruang untuk pegawainya sempit dan kecil di sebelah ruang kerjanya. Perapian di ruangan Scrooge sangat kecil, tapi perapian di ruangan pegawainya sekecil kerikil. Pegawainya tidak dapat menambah batu bara karena kotaknya disimpan di ruangan Scrooge, pernah kedapatan dia memegang sekop untuk menambah bara sehingga Scrooge memutuskan untuk memisahkan kotak itu dari pegawainya. Itulah mengapa Pegawai Scrooge mngenakan selimut dan menyalakan sebatang lilin meskipun usahanya untuk menghangatkan diri itu gagal total.
“Selamat Natal, Paman! Tuhan memberkati!” Seru satu suara riang. Itu suara Keponakan Scrooge, suaranya lebih dulu terdengar daripada orangnya.
“Bah!” kata Scrooge,”Omong kosong!”
Keponakan Scrooge berjalan dengan cepat dalam kebekuan kabut, bersemangat dan hangat, wajahnya tampan berseri, matanya berbinar-binar dengan napas beruap.
“Natal itu omong kosong? Paman!” kata Keponakan Scrooge,”Bukan itu maksud Paman, aku yakin.”
“Memang itu maksudku,”kata Scrooge,”Selamat Natal? Hak apa yang membuat kau gembira? Alasan apa yang buat kau bahagia? Kau miskin.”
“Ayo, kalau begitu,”sahut Keponakannya dengan riang,”Hak apa yang membuat Paman muram? Alasan apa yang buat Paman murung? Paman kaya.”
Scrooge yang tidak punya jawaban yang lebih baik lagi untuk situasi itu berkata,”Bah!” dan meneruskannya dengan,”Omong kosong!”
“Jangan marah, Paman”kata Keponakannya.
“Lalu aku harus apa?” sahut pamannya,”Hidup di dunia dengan Hari Natal. Konyol. Di hari Natal tetap harus bayar tagihan, Natal berarti bertambah tua tapi tidak bertambah kaya, dan saatnya membenahi pembukuan!” kata Scrooge marah,” Semua orang bodoh yang ber”Selamat Natal” di bibirnya sebaiknya mati saja!”
“Paman!” seru Keponakan
“Ponakan!” seru sang Paman dengan keras,”Simpan sendiri Natalmu, dan akan kusimpan Natalku sendiri.”
“Paman tidak pernah punya Natal,” kata Keponakan Scrooge.
“Kalau begitu, biarkan aku tidak mempedulikan Natal,” kata Scrooge.
“Ada banyak hal di mana aku memperoleh kebaikan bukan keuntungan,” sahut Keponakan,” aku berani bilang, termasuk Natal. Tapi aku selalu memikirkan Natal, ketika hari itu menjelang. Terlepas dari kesuciannya, Natal berarti kebaikan, mengampuni, saat bermurah hati dan saat bersenang-senang, hanya saat itu yang aku tahu dari kalender sepanjang tahun, ketika manusia membuka hati dan memperhatikan orang yang lebih susah hidupnya. Dan karena itu Paman, meskipun Natal tidak memberikan sepotong emas atau perak di kantongku, aku percaya Natal telah membuatku jadi baik dan akan tetap seperti itu, dan aku bilang, Tuhan memberkati Natal!”
Translated by OYEN
To be continued..

Read an article on China Aid. It said that on February 23, 2009, Congressman Frank R. Wolf (R-VA, 10th District) sent letter to Secretary of State Hillary Clinton regarding her remarks indicating that human rights would not be a priority for her visit to China. Read here

February 24, 2009
A CHRISTMAS CAROL
Woi..demam fesbuk dimana-mana neh..Orang-orang tergila-gila ma fesbuk..coba liat perilaku seorang pemuda AS yang nekad nyolong laptop orang buat dipake ngecek account fesbuknya. Uedannn tenan!!!!!!!!!!!
February 23, 2009
February 20, 2009
Well..gimana neh?
ini penampilan baruku..template baru yang menarik hati dan mataku..semoga yang laen juga begitu..
more to come..
February 19, 2009

February 9, 2009
February 5, 2009

February 4, 2009

February 3, 2009
